Cerita Bayi dan Balita Kurang Gizi di Indonesia yang Bikin Nangis Melihatnya

Anak merupakan salah satu titipan atau amanah yang diberikan kepada pasangan agar dijaga dan dibesarkan sebaik-baiknya agar menjadi dewasa dan siap mengasuh buah hati mereka sendiri kelak, dan seterusnya.

Sayangnya, karena faktor ekonomi, tidak sedikit bayi atau balita di Indonesia mengalami kurang gizi atau gizi buruk. Eits … sebelum meneruskan membaca, ada baiknya Anda mengetahui bahwa gizi buruk dan kurang gizi itu adalah dua kondisi yang berbeda.

Gizi buruk disebabkan karena orang tua tidak acuh atau kurang sadar akan pentingnya pemberian nutrisi kepada anak. Sedangkan kurang gizi disebabkan oleh kurangnya asupan energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi anka kecukuan gizi (AKG).

Kembali ke bahasan utama mengenai bayi dan balita kurang gizi, berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tahun 2014 lalu menyebutkan bahwa bayi, balita dan anak-anak di Tanah Air yang mengalami kekurangan gizi meningkat dari 15% ke 17% dari tahun sebelumnya.

Dan sampai sekarang ini ada banyak sekali kasus sejenis di Indonesia yang dapat membuat siapa saja menitikkan air mata karena menyedihkan. Berikut ini beberapa kasus dan kisah menyedihkan tentang bayi atau balita yang mengalami kekurangan gizi di Tanah Air.

1. Sidoarjo

Sontak, banyak netizen heboh dengan munculnya sebuah informasi beserta foto yang diunggah oleh seorang pengguna Facebook bernama Nining Astria pada tahun 2015 lalu.

Dalam unggahannya tersebut, Nining mengungkapkan bahwa ada sebuah panti asuhan di Sidoarjo, Jawa Timur, yang mana mengasuh bayi dan balita dengan sembarangan, hingga akhirnya mereka mengalami kekurangan gizi.

[Image Source wartakesehatan.com]
[Image Source wartakesehatan.com]
Dalam postingannya tersebut, Nining mengatakan bahwa 1 pengasuh mendapatkan tugas untuk mengasuh 10 anak. Yang membuat miris adalah perlakukan pengasuh kepada anak-anak kecil tersebut. Mereka hanya diberikan makan nasi beserta kuah mie instan, tidak diperhatikan kesehatannya sampai dengan kakinya diikat dengan tali.

Walaupun mendapatkan banyak sanggahan dari netizen lain karena mereka menganggap sungguh suatu pekerjaan yang susah harus merawat 10 anak sekaligus setiap hari, namun ada pula yang geram akan perlakuan para pengasuh tersebut kepada para bayi dan balita di sana.

2. Bali

Sebuah kisah menyedihkan lainnya terjadi di Bali, tepatnya di Dusun Batumadeg, Kecamatan Abang Karangasem, yaitu ada seorang balita berusia 9 bulan, bernama Ni Kadek Sri Astiti yang terlahir dengan kedua matanya hampir ditutupi selaput putih dan perkembangan kedua tangan dan kakinya tidak normal.

Apa yang dialami balita mungil ini dikarenakan orang tuanya adalah keluarga miskin yang mengaku sejak Astiti lahir hingga sekarang nyaris tidak mendapatkan asupan gizi yang baik.

[Image Source blogspot.com]
[Image Source blogspot.com]
Bahkan, selama mengandung, sang ibu tidak dapat memeriksakan kondisi kehamilannya serta tidak mampu membeli susu yang bergizi untuk diberikan kepada sang buah hatinya itu. Orang tua Astiti sehari-hari hanya dapat makan gaplek yang merupakan hasil olahan dari sisa ubi di ladang orang yang sudah dibuang.

Untung saja, Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan segenap badan terkait langsung merespon cepat dengan memberikan bantuan kepada keluarga balita lucu itu.

3. Purwakarta

Seorang balita yang baru berusia 5 bulan akhirnya harus menghembuskan napas terakhisnya karena kurangnya gizi yang didapatkannya selama ini. Bayi bernama Ani tersebut merupakan anak bungsu dari pasangan suami-istri miskin Agus Suherman dan Irma, warga Kampung Jati jajar, Desa Sukatani, Kabupaten Purwakarta.

Dikarenakan faktor kemiskinan dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah plastik yang mana setiap harinya harus mencari makanan sisa di mana saja, kebutuhan gizi yang harusnya didapatkan oleh Ani akhirnya terbengkalai begitu saja.

[Image Source tribunnews.com]
[Image Source tribunnews.com]
Sejak usia 3 bulan, Ani sudah mengalami pertumbuhan yang tidak normal dan tidak pernah mendapatkan makanan bergizi. Di samping itu, kondisi rumah tinggal yang hanya berukuran 3×3 meter itu tidak memiliki MCK dan tempat untuk menampung air bersih.

Dikarenakan banyak faktor itulah, Ani hanya mampu menikmati indahnya dunia selama 5 bulan saja dan akhirnya kembali ke Sang Pencipta.

4. Bagansiapiapi

Keadaan tak kalah mengenaskan juga menimpa seorang balita berusia 2 tahun bernama Roni. Dia adalah anak dari pasangan Sukardi dan Rina, warga Jalan SMU 2 Kelurahan Bagan Hulu Kecamatan Bangko yang sehari-hari hanya mengandalkan hasil dari laut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain mengalami kurang gizi, Roni juga menderita gizi buruk yang membuat berat badannya hanya mencapai 5,4 kilogram saja. Sang ibu mengatakan bahwa mereka tidak mampu untuk membeli susu apalagi berobat karena untuk makan sehari-hari saja sudah susah.

[Image Source riaumandiri.co]
[Image Source riaumandiri.co]
Penghasilan dari menangkap ikan tidak dapat diandalkan. Bahkan untuk berobat pun, mereka hanya berharap belas kasihan pihak puskesmas agar biayanya digratiskan. Mereka pun mengaku tidak memiliki kartu pengobatan BPJS.

Selain kurang gizi dan gizi buruk, Roni yang hanya dapat terbaring lemah tak berdaya itu, juga menderita TBC karena selama ini hanya melakukan pengobatan rawat jalan saja yang disebabkan kurangnya biaya untuk mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit.

5. Jambi

Pertengahan tahun 2015 lalu muncul sebuah berita menyedihkan yang menimpa seorang balita dari Suku Anak Dalam (SDA) atau yang dikenal dengan sebutan Orang Rimba di Jambi. Balita tersebut mengalami kurang gizi yang sangat parah dan membuatnya menderita beberapa penyakit sekaligus.

Menurut dokter yang menanganinya di Rumah Sakit Umum Raden Mattaher, balita yang diketahui bernama Tumpal ini hanya dapat menangis menahan sakit di ruangan ICCU. Bahkan, jika dibandingkan dengan balita seusianya, yaitu yang berumur 1 tahun, Tumpal memiliki tubuh kurus kering dan hanya dapat tergolek lemas di tempat tidur.

[Image Source wartapriangan.com]
[Image Source wartapriangan.com]
Dari diagnosa pihak rumah sakit, selain kurang gizi, Tumpal juga menderita infeksi paru-paru dan diare akut sehingga pada fecesnya ditemukan jamur dan bakteri.

Tidak hanya di Indonesia saja, berdasarkan data dari WHO, ada sekitar 3,1 juta anak di seluruh dunia yang kekurangan gizi dan banyak di antaranya akhirnya meninggal dunia.

Secara umum, kurang gizi atau malnutrisi ini tidak dapat dikategorikan penyakit karena dapat dihindari, hanya saja ada beberapa hal yang menjadi kendala, salah satu yang terbesar adalah faktor kemiskinan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *