Inspiratif, Seorang Ibu Susah Payah Sendirian Membesarkan Anaknya Yang Divonis Menderita Cerebral Palsy Hingga Lulus Harvard.

Patut Di Contoh Nih, Buat Ibu Ibu Lain

Cinta seorang ibu tak kenal batas. Itu ungkapan yang tepat untuk menggambarkan besarnya rasa cinta seorang ibu kepada anaknya. Ketika sedang mengandung, seorang ibu pasti melakukan apa saja supaya janin yang ada di dalam perutnya sehat. Yang biasanya tidak suka sayuran. Yang biasanya makan makanan jungky fastfood berubah ke makanan makanan yang sehat. Begitu juga yang biasanya lemah sakit sakitan, begitu hamil ia justru menjadi lebih kuat. Semua hal yang semula berat untuk dilakukan, berubah jadi musah semata mata agar bayinya sehat.

Inspiratif, Seorang Ibu Susah Payah Sendirian Membesarkan Anaknya Yang Divonis Menderita Cerebral Palsy Hingga Lulus Harvard.
Inspiratif, Seorang Ibu Susah Payah Sendirian Membesarkan Anaknya Yang Divonis Menderita Cerebral Palsy Hingga Lulus Harvard.image [source]

Segala upaya telah dilakukan, namun terkadang apa yang diapat diluar dugaan, diluar harapan. Tidak semua bayi yang dilahirkan di dunia ini dalam keadaan sehat. Bayak dari bayi bayi yang baru lahir tersebut menderita kelainan. baik kelainan fisik maupun kelainan psikis. Nama ibu yang satu ini adalah Zou Hongyan. Ia tinggal di china bersama suaminya. Ketika lelaki pertamanya lahir, impian indahnya seolah menjadi malapetaka. Anaknya divonis menderita cerebral Palsy. Dokter mengatakan pada si ibu untuk tak berharap banyak dari si anak. Suaminya sendiri menolak kehadiran anak yang cacat tersebut. paling parah ia bercerai dengan lelaki yang telah memberinya anak. Berjat jegigihan si wanita yang satu ini, malapetaka itu berhasil ia ubah menjadi manis dengan berjuang sendirian. Anak yang di vonis menderita cerebral palsy itu lulus dari harvard. Menjungkir balikkan prediksi dokter yang memvonis bahwa ia tidak akan pandai. Oenasaran kan bagaimana si ibu membesarkan anak penderita cerebral palsy hingga lulus Harvard? Simak cerita lengkapnya di bawah ini.

1. Terlahir Dengan Kelainan Cerebral Palsy.

Sering dengar kan istilah cerebral palsy. Penyakit ini banyak diderita oleh bayi bayi yang di lahirkan di dunia. setiap tahunnya ada 10.000 bayi yang di diagnosis menderita cerebral palsy. Cerabral palsy ini merupakan serangkaian gangguan yang disebabkan karena cidera otak saat proses kelahiran. Seperti kita tahu, otak itu sangat rentan. Sebentar saja telat mendapatkan suplay oksigen, maka sel sel otak bisa rusak. Pada beberapa kasus, hambatan saat proses kelahiran bisa menyebabkan si bayi tercekik dan kurang mendapatkan supkay oksigen. Proses kelahiran yang lama tersebutlah yang bisa menyebabkan terjadinya cerebral palsy.

Terlahir Dengan Kelainan Cerebral Palsy
Terlahir Dengan Kelainan Cerebral Palsy. image [source]

Karena adanya cidera otak, maka gerak, keseimbangan dan postur tubuh si anak akan terganggu. Cerebral palsy ini juga membuat kecerdasan dan kemampuan belahar anak menurun. Kondisi inilah yang dialami oleh bayi anak pertama dari wanita cina bernama Zou Hongyan. Anak laki laki yang baru ia lahirkan di vonis menderita cerebral palsy. Kelahiran anak yang ia juluki dengan nama ding ding ini terhadi pada tahun 1988.

2. Sakitnya Mendengar Vonis Dokter Bahwa Si Anak Tidak Akan Pernah Pandai Dan Tidak Berharga Untuk Dirawat.

Dokter biasanya jujur, mengatakan apa adanya seolah tidak mempertimbangkan perasaan si pasien atau keluarga dekat. Beberapa saat setelah lahir pun, dokter yang membantu menangani kelahiran bayi ding ding ini memberitahukan kepada Zou dan suaminya. Menuru sang dokter langsung memvonis bahwa anak yang baru saha ia lahirkan akan menderita cerebral palsy. Anak tersebut tidak akan bisa pandai. Yang paling menyakitkan bagi perasaan si Zou, dokter itu berkata bahwa anaknya tidak berharga untuk di rawat.

Sakitnya Mendengar Vonis Dokter Bahwa Si Anak Tidak Akan Pernah Pandai Dan Tidak Berharga Untuk Dirawat.
Sakitnya Mendengar Vonis Dokter Bahwa Si Anak Tidak Akan Pernah Pandai Dan Tidak Berharga Untuk Dirawat. image [source]
Ibu mana yang tidak akan sakit dan down mentalnya ketika dokter berkata demikian. Anak yang kehadirannya sudah dinantikan selama 9 bulan, kok di katakan tak akan bisa pandai dan takbergarga untuk dirawat. Untung saha Zou tidak mau percaya dengan perkataan si dokter. Ia bersikeras tetap merawat si bayi apapun keadaanya.

3. Sang suami justru setuju dengan pendapat dokter dan menganggap anak sebagai beban.

Ketika masalah berat menghadang, semuanya akan terasa ringan apabila pasangan kita mendukung. Yang terjadi pada Zou ini justru sebaliknya. Ketika anak mereka divonis menderita cerebral palsy, seharusnya ia dan suami bahu membahu membesarkan anaknya. Apalagi khusus untuk bayi penderita cerebral palsy, tentu di butuhkan terapi serta latihan latihan khusus. Bukannya memberi semangan dan mendukung sang istri, suami Zou ini juatru berpoendapat bahwa anak mereka akan menjadi beban seumur hidup.

Sang suami justru setuju dengan pendapat dokter dan menganggap anak sebagai beban
Sang suami justru setuju dengan pendapat dokter dan menganggap anak sebagai beban. image [source]

Si suami menginginkan bahwa si anak yang menderita cerebral palsy di buang atau di berikan ke panti asuhan saja. Insting sebagai seorang ibu tentu menolak ide ngawur dari sang suami ini. ketika sang suami tetap memaksa untuk menyingkirkan sang anak dari kehidupan rumah tangga, Zou memutuskan untuk bercerai dengan suami dan memilih membesarkan anak sendirian.

4. Single Parent, Banting Tulang Mendidik Anaknya Yang Cerebral Palsy.

Menjadi single parent saja sudah cukup berat apalagi harus sendirian merawat anak penderita cerebral Palsy? Tentu rasanya sangat berat kan. Benar saja, untuk bisa menghidupi diri sendiri serta memenuhi semua kebuturah terapi si anak, Zou ini terpaksa harus bekerja cukup keras. Zou ini bekerja fulltime di sebuah universitas wuhan cina, ia juga sering mengambil pekerjaan sampingan sebagai petatih dan sales perusahaan asuransi.

Single Parent, Banting Tulang Mendidik Anaknya Yang Cerebral Palsy.
Single Parent, Banting Tulang Mendidik Anaknya Yang Cerebral Palsy. image [source]

Seorang wanita mengambil 3 pekerjaan sekaligus, tentu sangat melelahkan ya rasanya. Pasti hanya ada sedikit waktu istirahat yang ia punyai. Apalagi ia juga harus merawat anaknya penderita cerebral palsy. Anak penderita cerebral palsy biasanya lambat berkembang dan tergantung pada orang lain.

5. Melatih Si Anak Dengan Keras Dan Dengan Harapan Tinggi.

Perkataan dokter di awal kelahiran sang anak bahwa ia tidak akan bisa pandai rupanya tidak membuat mental sang ibu ini down. Ia tetap memiliki harapan tinggi kepada anaknya tersebut seperti orang orang normal lainnya. di sela sela kesiukannya menjalani 3 profesi, si ibu ini mengantar anaknya menjalani fisioterapi. Tak peduli hujan salju, cuaca panas maupun dingin, ia tetap menjalani apa yang harus dilakukan. Ia juga belajar sendiri cara merawat anaknya dengan benar seperti para terapi. Ketika otot tubuh anaknya kaku, ia pijat sendiri.

Melatih Si Anak Dengan Keras Dan Dengan Harapan Tinggi.
Melatih Si Anak Dengan Keras Dan Dengan Harapan Tinggi. image [source]

Untuk menjaga agar otak anaknya berkembang, di sela sela waktu luang ia gunakan untuk bermain game game penstimulasi otak. Game game pendidikan yang ia kumpulkan dari berbagai sumber. Seperti pada umumnya penderita cerebral palsy, kordinasi tubuhnya kurang bagus. Gerakan gerakan yang bagi orang normal terlihat mudah dilakukan, bagi mereka merupakan sesuatu yang susah. Seperti makan dengan sumpit misalnya. Meskipun anak nya kesulitan melakukan hal hal tertentu si ibu tak pernah lelah mengajari dan membimbing anaknya sampai bisa. Zou bersikeras agar anaknya bisa melakukan gal gal sederhana seperti anak anak lain supaya ia tidak merasa minder.

6. Semua Kerja Kerasnya Terbayar, Anaknya Lulus Dari Harvard.

Berkat kerja keras sang ibu ding ding pun berhasil masuk ke sekolah dan univeersitas bergengsi. Tahun 2011 ia lulus dari univeersitas peking dengan gelar sarjana ilmu lingkungan. Tak berhenti sampai disitu saja, atas dorongan si ibu ia mendaftar di strata 2 di universitas internasional jurusan hukum. Ia menyelesaikan gelas masternya selama 2 tahun. Setelah itu ia melanjutkan untuk belajar di unversitas paling bergengsi di dunia yaitu Harvard. Ajaibnya ia diterima untuk belajar di universitas yang menjadi incaran orang dari seluruh dunia tersebut.
http://static.boredpanda.com/blog/wp-content/uploads/2017/05/chinese-mother-disabled-son-harvard-2.jpg

Semua Kerja Kerasnya Terbayar, Anaknya Lulus Dari Harvard
Semua Kerja Kerasnya Terbayar, Anaknya Lulus Dari Harvardimage [source]

Bisa kuliah di universitas terkenal tentu saja menyenangkan. Tapi biaya yang harus dikeluarkan tentu saja besar. Apalagi bagi ibunya yang single parent. Untung saja, oleh universitas Harvard, ding ding mendapatkan beasiswa 75 persen dari semua biaya kuliah. Sang ibu tentu senang meski masih harus menanggung 25 persen dari biaya kuliah di harvard. Ding ding sendiri tak pernah menyangka ia bisa diterima di universitas tersebut. apalagi kondisi fisiknya mengalami keterbelakangan. Untunglah setiap kali ia ragu, ada ibu yang selalu meyakinkan. Puncaknya dingding lulus dari universitas bergengsi tersebut belum lama ini.

Perjuangan yang panjang dari seorang ibu yang tak kenal lelah. Tuhkan, dengan campur tangan seorang ibu, anak yang menderita cerebral palsy pun bisa sukses lulus dari harvard kan? Sebesar itu lah cinta seorang ibu kepada anaknya. Yuk yang masih punya ibu, hargai perjuangan mereka. meskipun tidak mungkin membalas semua yang telah mereka berikan paling tidak kita tidak membuatnya sia sia. Kita buktikan bahwa perjuangan mereka memberikan efek baik bagi perkembangan dunia ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *