Ini Perang Saudara Pada Zaman Kerajaan Yang Pernah Gemparkan Tanah Jawa!

Perebutan takhta bisa memicu perang saudara yang berkepanjangan. Hal ini karena untuk menjadi seorang raja, seseorang harus mau bertempur melawan siapa pun yang menghalangi jalannya. Meski lawannya mungkin adalah saudara atau bahkan orang tuanya sendiri.

Beberapa kerajaan di tanah Jawa pernah mengalami perang saudara yang menumpahkan banyak darah. Tak jarang, perang tersebut berlangsung terus dalam beberapa generasi. Dan demi perebutan takhta singgasana, banyak orang yang rupanya rela melawan saudara atau bahkan orang tua sendiri. Dan inilah perang saudara pada zaman kerajaan yang pernah gemparkan tanah Jawa.

1. Kutukan Keris Mpu Gandring

Keris Mpu Gandring adalah salah satu senjata pusaka yang terkenal di Nusantara. Hal ini karena kutukan yang tersimpan dalam keris tersebut telah membunuh tujuh keturunan Ken Arok. Senjata pusaka itu juga sangat erat kaitannya dengan riwayat berdirinya Kerajaan Singhasari di daerah Malang, Jawa Timur, saat ini. Keris tersebut dibuat oleh seorang pandai besi ternama yang dikenal sangat sakti, yakni Mpu Gandring.

Kutukan Keris Mpu Gandring [image source]
Kutukan Keris Mpu Gandring [image source]

Ken Arok kemudian memesan keris itu kepada Mpu Gandring dengan syarat harus bisa diselesaikan dalam waktu semalam saja. Sayangnya, ketika Ken Arok hendak mengambil keris itu, sarung dari senjata tersebut belum selesai. Karena Mpu Gandring dianggap ingkar janji, Ken Arok lalu menguji ketajaman keris tersebut dengan menusukkannya pada pandai besi itu.
Dalam keadaan sekarat, Mpu Gandring lantas mengeluarkan kutukan jika keris buatannya akan memakan korban tujuh turunan dari Ken Arok. Dan dalam perjalanannya, keris tersebut rupanya benar-benar menciptakan perselisihan dan pembunuhan di kalangan elit kerajaan Singhasari. Dan perang saudara pun tak bisa dihindari.

2. Sutawijaya Melawan Sultan Hadiwijaya

Sultan Hadiwijaya adalah ayah angkat dari Sutawijaya. Saat itu, Hadiwijaya, bupati Pajang, sengaja mengangkat Sutawijaya sebagai anak untuk pancingan. Sebab sudah lama menikah, dia dan istrinya belum dikaruniai anak. Kemudian setelah Ki Ageng Pamanahan, ayah Sutawijaya, meninggal pada tahun 1584, putranya lalu menggantikan kedudukannya sebagai pemimpin Mataram dengan gelar Senapati Ingalaga (Panglima di medan perang).

Sutawijaya Melawan Sultan Hadiwijaya [image source]
Sutawijaya Melawan Sultan Hadiwijaya [image source]

Suatu hari, Tumenggung Mayang, adik ipar dari Sutawijaya, membuat Sultan Hadiwijaya marah besar karena membantu putranya, Raden Pabelan, menyusup ke dalam keputrian menggoda Ratu Sekar Kedaton, putri bungsu Sultan. Mengetahui hal itu, Hadiwijaya lantas menghukum buang Tumenggung Mayang ke Semarang. Karena istri dari Tumenggung Mayang adalah adik dari Sutawijaya, sang Senapati pun mengirim para mantri pamajegan untuk merebut Tumenggung Mayang dalam perjalanan pembuangannya.

Kabar itu langsung diketahui oleh Hadiwijaya dan membuatnya sangat marah. Sang Sultan kemudian membawa bala tentaranya untuk menyerbu Mataram. Namun, perang itu berakhir dengan kemenangan Sutawijaya. Dalam perjalann menuju Pajang, Sultan Hadiwijaya lalu jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Namun, sebelum mengembuskan napas terakhir, dia berpesan kepada anak-anaknya kalau mereka tidak boleh membenci kakak angkat mereka, Senapati.

3. Raden Patah Melawan Prabu Brawijaya V

Asal-usul Raden Patah menurut Babad Tanah Jawi adalah putra dari raja terakhir Majapahit, Brawijaya V. Raden Patah yang saat itu diketahui memiliki gelar Senapati Jimbun ini dilahirkan dari seorang selir yang berdarah Tionghoa. Selir tersebut merupakan puteri dari Kyai Batong alias Tan Go Hwat. Namun, karena sang permaisuri merasa cemburu dengan keberadaan selir tersebut, Brawijaya kemudian memberikan selirnya kepada putra sulungnya.

Raden Patah Melawan Prabu Brawijaya V [image source]
Raden Patah Melawan Prabu Brawijaya V [image source]

Alih-alih menggantikan posisi ayah tirinya, Arya Damar, sebagai bupati Palembang, Raden Patah malah memutuskan untuk pergi ke Pulau Jawa. Sesampainya di Jawa, dia lalu berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Setelah itu, dia pun membuka sebuah pesantren di hutan Glagahwangi. Tak disangka, Pesantren Glagahwangi yang didirikan oleh Raden Patah semakin lama semakin maju. Mengetahui kabar itu, Brawijaya V dari Majapahit, yang sejatinya adalah ayah kandung dari Raden Patah, merasa khawatir kalau putranya berniat memberontak.

Karena itu, Brawijaya lalu memanggil Raden Patah ke hadapannya. Melihat sosok Raden Patah yang cerdas dan bersinar, Brawijaya merasa sangat terkesan dan akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun lalu diangkat sebagai bupati, sementara Glagahwangi berganti nama menjadi Demak.

Sunan Ampel diketahui sempat melarang Raden Patah untuk memberontak terhadap Majapahit. Sebab, meski pun Raden Patah dan Brawijaya berbeda agama, sang raja tetaplah ayah Raden Patah. Namun, sepeninggal Sunan Ampel, Raden Patah rupanya tetap meneruskan niatnya dan akhirnya menyerang Majapahit. Dalam serangan itu, Brawijaya memutuskan untuk moksa.

4. Perang Paregreg

Majapahit mencapai puncak kejayaannya ketika berada di bawah kekuasaan Hayam Wuruk. Kesuksesan itu tentunya tak lepas dari peran besar mahapatihnya, Gajah Mada, yang dikenal cerdas dan sakti. Namun setelah Hayam Wuruk wafat, masa keemasan Majapahit pun mulai memudar. Kemunduran itu diakibatkan oleh adanya konflik perebutan takhta yang terjadi di kalangan elit kerajaan.

Warisan kerajaan Nusantara [image source]
Warisan kerajaan Nusantara [image source]

Pewaris Hayam Wuruk saat itu adalah putri mahkota Kusumawardhani. Dia kemudian menikahi sepupunya sendiri, pangeran Wikramawardhana. Di sisi lain, Hayam Wuruk juga mempunyai seorang putra dari selirnya Wirabhumi, Wikramawardhana, yang juga menuntut haknya atas singgasana raja. Karena konflik perebutan takhta tersebut, pecahlah perang saudara yang kemudian disebut Perang Paregreg.

Perang itu diperkirakan terjadi pada tahun 1405-1406, antara Wirabhumi melawan Wikramawardhana. Tapi pada akhirnya, perang ini dimenangkan oleh Wikramawardhana, sedangkan Wirabhumi lantas ditangkap dan dipancung. Karena sibuk berebut takhta, kekuataan Majapahit ikut melemah, sehingga kendali kerajaan besar itu atas daerah-daerah taklukannya di seberang menjadi kendur.

Demi merebut takhta, hubungan darah bahkan bisa diabaikan begitu saja. Anak melawan ayahnya. Adik melawan kakaknya. Akibatnya, banyak darah yang harus tumpah dengan sia-sia di medan pertempuran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *