Sedang memuat Ridwan Kamil, Pengusiran Perpustakaan Jalanan Oleh Oknum TNI Dan Para Pejuang Literasi.

Ridwan Kamil, Pengusiran Perpustakaan Jalanan Oleh Oknum TNI Dan Para Pejuang Literasi.

Perjuangan Mereka Dalam Membuat Perpustakaan, Patut DIhargai

Buku merupakan jendela ilmu. Namun dengan makin dahsyatnya serbuan gadget, facebook serta sosial media lain, minat membaca mulai menurun. Anak anak lebih suka memnghabiskan waktu mereka di depan layar handphone ketimbang membaca-baca pengetahuan yang ada dibuku. Bagi anak-anak kalangan bawah yang tidak punya gadget pun, minat baca juga kecil. Penyebabnya adalah terbatasnya akses anak-anak dari kalangan kurang mampu tersebut terhadap buku-buku. Uang ayah dan ibunya habis untuk memenuhi kebutuhan pokok. Tidak ada alokasi dana bulanan untuk membeli buku.
Launching Perpustakaan Keliling Di Makodim 1420/Sidrap

Launching Perpustakaan Keliling Di Makodim 1420 Sidrap
Launching Perpustakaan Keliling Di Makodim 1420 Sidrap. image [source]

Di tengah-tengah meredupnya minat baca masyarakat tersebut, beberapa orang berjuang keras untuk tetap meningkatkan minat baca masyarakat. Di tengah-tengah keterbatasan dana, mereka berusaha memberikan akses buku bagi anak-anak serta warga yang tidak mampu. Mereka mendirikan perpustakaan gratis memberikan akses akses bacaan tanpa biaya di jalanan dan di tempat strategis lainnya. Sayangnya di bandung 20 agustus 2016, kemarin terjadi insiden pengusiran aktivis perpustakaan jalanan oleh oknum TNI, sehingga mendapat kecaman dari Ridwan Kamil. Untung saja selain para komunitas perpustakaan jalanan di bandung tersebut, ada juga pejuang-pejuang perpustakaan lain yang mengalakkan budaya literasi. Berikut ini daftar orang-orang yang telah berjuang keras menumbuhkan minat baca di kalangan masyarakat Indonesia tersebut.

1. Supir Yang Menyulap Angkotnya Menjadi Perpustakaan Mini.

Nama panggilannya Pian. Ia adalah sopir angkot jurusan Sorean-terminal Leuwipanjang. Sudah menjadi rutinitasnya setiap hari untuk memacu angkot yang ia beli secara kredit dengan angsuran 2 juta tiap bulan tersebut. Sepanjang rute Soreang Leuwipanjang PP, ia berteriak-teriak mencari penumpang. Di tengah-tengah kesibukannya mencari penumpang, 10 hari terakhir ini, handphonenya sibuk berdering. Ia kini menjadi buruan dari banyak wartawan lokal maupun nasional. Penyebab mengapa Pian diburu banyak wartawan adalah karena ide uniknya yang menyulap angkot menjadi perpustakaan mini.

Supir Yang Menyulap Angkotnya Menjadi Perpustakaan Mini.
Supir Yang Menyulap Angkotnya Menjadi Perpustakaan Mini.image [source]

Dibagian belakang angkot milik Pian ini memang ada 26 koleksi buku dengan beragam tema. Ide awal sehingga ia bisa mengubah angkot menjadi perpustakaan mini tersebut berasal dari istrinya. Istri Pian ini merupakan seorang guru honorer yang bertugas sebagai operator perpustakaan di suatu sekolah. Namanya Elis Ratna Suminar. Selain sebagai tenaga honorer, dia juga menjadi petugas konseling bagi warga masyarakat yang kurang mendapatkan perhatian di bidang pendidikan. Tertarik dengan ide sang istri tersebut, dengan modal 300 ribu rupiah, Pian membeli buku dan memajangnya di bagian belakang angkot. Sudah genap 4 bulan Pian mengoperasikan angkot perpustakaan mini tersebut. Meskipun ada koleksi buku, penghasilan harian Pian ini tidaklah meningkat. Namun ia tidak berkeberatan dengan itu karena niatnya memang hanya ingin memberi fasilitas bagi yang punya niat baca saja. Selain mengubah angkot menjadi perpustakaan mini, Pian bersama sang istri punya impian lagi mendirikan perpustakaan gratis di samping rumah. Namun dengan penghasilan hariannya yang hanya 100 ribu rupiah minus cicilan kredit mobil, impiannya tersebut belum akan terlaksana dalam waktu dekat.

2. Dengan Modal 300 Buku Dan Teras Rumah di Gunung Kidul, Mampu Menyabet Penghargaan Juara 1 Tingkat Nasional.

Ngupoyo Pinter, itulah nama sebuah perpustakaan desa yang ada di Badungan, Semin Gunung Kidul. Perpustakaan ini didirikan pertama kali pada 1 September 2008 oleh Sukino. Pada awal berdirinya, koleksi buku yang dimiliki hanya berjumlah 300. Perpustakaan tersebut pun hanya bertempat di teras rumahnya. Sebelumnya ayah sukono pernah membangun perpustakaan pada tahun 1998, namun mati suri karena bebrapa alasan. Takkenal menyerah sukino pun menderikanlahi perpustakaan tersebut dengan modal bangunan teras rumah peninggalan kontraktor pabrik pupuk. Untuk bisa membaca di perpustakaan ngupoyo pinter, anak-anak tidak dipungut biaya sedikitpun. Satu-satunya biaya yang harus dibayarkan hanyalah sejumlah uang 2000 rupiah untuk bergabung menjadi anggota. Dengan bermodalkan jumlah buku yang terbatas tersebut tiap harinya 10 anak datang untuk membaca buku. Seiring berjalannya waktu, keberadaan perpustakaan desa tersebut mulai di ketahui oleh kantor Perpustakaan dan arsip daerah (KPAD). Melalui KPAD, perpustakaan Ngupoyo Pinter mendapatkan sumbangan buku dari perpusnas berjumlah 1000 buku.

Dengan Modal 300 Buku Dan Teras Rumah di Gunung Kidul, Mampu Menyabet Penghargaan Juara 1 Tingkat Nasional.
Dengan Modal 300 Buku Dan Teras Rumah di Gunung Kidul, Mampu Menyabet Penghargaan Juara 1 Tingkat Nasional.. image [source]

Selain mendapatkan sumbangan buku dari Perpusnas, Sukino juga mengajukan proposal ke berbagai instansi swasta. Gayung pun bersambut, salah satu perusahaan swasta Kompas Gramedia memberikat sumbangan buku, komputer serta bangunan permanen bagi perpustakaan Ngupoyo Pinter. Sejak saat itulah perpustakaan desa yang dikelola oleh Sukino dan keluarga berdiri di samping rumah. Kini ada lebih dari 600 anggota telah bergabung di perpustakaan. Selain punya bangunan permanen, perpustakaan desa tersebut juga memiliki 3 set komputer lengkap dengan jaringan internet.

3. Mengubah Motor Menjadi Perpustakaan Keliling

Seorang transmigran asal Ponorogo yang berprofesi sebagai tukang tambal ban. Berkeliling dari desa ke desa di pedalaman lampung. Bermodalkan motor bekas seharga 450 ribu rupiah yang ia beli dari pasar loak, tujuannya adalah mengantarkan buku-buku kepada anak anak di pelosok kampung. Buku buku tersebut ia beli dari pasar loak juga. Meskipun berprofesi sebagai seorang tambal ban, ia adalah seorang alumnus Universitas terbuka jurusan Perpustakaan.

Mengubah Motor Menjadi Perpustakaan Keliling
Mengubah Motor Menjadi Perpustakaan Keliling. image [source]

“Kemampuan saya memang terbatas, tapi semangat saya tidak terbatas”, itulah pedoman hidup yang di pegangnya selama ini. Selain menjadikan motornya sebagai perpustakaan keliling, Sugeng Hariyono ini juga menyelenggarakan kursus komputer gratis tiap akhir pekan kepada anak-anak serta warga yang menghendaki. Ia mengajarkan materi word, excel serta power point di pelosok Lampung tersebut. Luar biasa bukan? di tengah keterbatasannya sendiri dalam mencari nafkah, ia masih sempat memberikan manfaat bagi orang lain.

4. Berawal Karena Di PHK, Eko Membangun Perpustakaan Yang Punya 10 Ribu Anggota.

Ketika krisis moneter terjadi di Indonesia pada 1998 lalu, perusahaan konveksi tempat Eko Tjahyoo bekerja melakukan pemutusan hubungan kerja secara besar besaran. Eko menjadi salah satu karyawan yang terkena dampaknya. Memiliki banyak waktu luang di rumah, ia menghabiskan waktunya untuk membaca banyak koran bekas. Seiring makin menggila hobi baca yang ia miliki, Eko pun mendirikan perpustakaan kecill dengan bangunan dari bambu di kebun tetangga samping rumahnya. Warga sekitar yang rata rata berprofesi sebagai petani dan peternak pun mulai tertarik. Anak-anak muda berkumpul di perpustakaan kecil milik Eko tersebut.

Berawal Karena Di PHK, Eko Membangun Perpustakaan Yang Punya 10 Ribu Anggota
Berawal Karena Di PHK, Eko Membangun Perpustakaan Yang Punya 10 Ribu Anggota. image [source]

Dengan semakin banyaknya pengunjung, Eko berusaha keras memperbanyak koleksi buku dari honor menulis artikel di media dan sebagian dari hasil membuka toko sembako bersama kakaknya. Anggota perpustakaan mandiri yang didirikan Eko pun mencapai 10 ribu orang. 2 ribu diantara anggota perpustakaan tersebut merupakan pelajar. Sedangkan sisanya adalah petani dan peternak warga sekitar. Mereka umumnya senang membaca di sana karena untuk meminjam buku tidak ditarik biaya. Koleksi buku yang dimiliki perpustakaan Bernama “perpustakaan Anak Bangsa” ini cukup beragam. Dan di tahun 2011, berkat perhatian dari banyak pihak, Eko mampu membeli lahan sekaligus membuat bangunan bata untuk perpustakaan mandirinya tersebut. Tak berhenti di situ, Eko pun berencana membuat sudut baca di berbagai tempat-tempat lain seperti pos ronda dan ruang tunggu angkutan umum. Untuk membantu operasional perpustakaan ia membuka warung nasi dan es di depan pepustakaan yang telah berdiri lebih dari 16 tahun tersebut.

5. Pengusiran Perpustakaan Jalanan Oleh Oknum TNI

Di samping orang orang yang berjuang keras untuk meningkatkan minat baca masyarakat, ternyata ada juga aksi-aksi yang justru kontraproduktif. Di Bandung komunitas perpustakaan jalanan diusir oleh oknum TNI ketika mereka sedang menggelar lapak buku bacaan gratis di taman Cikapayang Dago, Bandung. Pada tanggal 20 Agustus 2016 tersebut di bubarkan oleh sekelompok oknum TNI yang diangkut dengan 2 truk. Sekitar 50 anggota TNI berteriak-teriak berusaha untuk membubarkan komunitas perpustakaan jalanan tersebut. Selain berteriak-teriak oknum TNI tersebut juga sempat memukul 3 anggota perpustakaan jalanan.

Perpustakaan Jalanan di Kawasan Dago Bandung
Perpustakaan Jalanan di Kawasan Dago Bandung. image [source]

Aksi pembubaran dan pengusiran terhadap aktivitas perpustakaan jalanan ini ternyata bukan sekali ini terjadi saja. Beberapa waktu sebelumnya, pembubaran oleh oknum TNI serupa pernah terjadi. Ridwan Kamil, selaku walikota Bandung juga ikut mengecam aksi pembubaran tersebut. Melalui akun twitternya, Ridwan Kamil berharap bahwa aksi pembubaran terhadap kegiatan perpustakaan jalanan tersebut tidak terjadi lagi di masa depan. Alasannya kegiatan tersebut selaras dengan pemkot Bandung yang sedang giat-giatnya meningkatkan budaya baca untuk warganya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *