Ini Yang Dilakukan Orang Di Berbagai Tempat Ketika Di Tinggal Mati Anak Mereka Yang Masih Balita.

Dari Yang Aneh Sampai Yang Wajat

Kita patut bersyukur hidup di masa sekarang ini. dunia kedokteran sudah maju. Obat obat serta peralatan kesehatan sudah beraneka ragam. Sekolah sekolah yang mencetak dokter ahli pun sudah banyak. penyakit penyakit yang dulunya dianggap kutukan dapat ditangani secara ilmiah. Dengan berbagai fakta tersebut harapan hidup orang pada masa sekarang lebih besar dari orang pada zaman dahulu.

Ini Yang Dilakukan Orang Di Berbagai Tempat Ketika Di Tinggal Mati Anak Mereka Yang Masih Balita.
Ini Yang Dilakukan Orang Di Berbagai Tempat Ketika Di Tinggal Mati Anak Mereka Yang Masih Balita. image [source]

Pada zaman dahulu, risiko kematian sangat tinggi. Mereka yang terancam kematian ini terutama adalah bayi dan anak anak yang berusia kurang dari 7 tahun. Angka kematian yang tinggi ini disebabkan karena banyaknya penyakit yang beredar di dalam masyarakat, gaya hidup yang kurang higienis serta masih terbatasnya teknik pengobatan yang ada di masa itu. Oleh karena tingginya angka kematian bayi dan anak anak ini, orang orang tidak memanusiakan manusia kalau umur mereka kurang dari 7 tahun. Secara sederhananya, anak anak yang umurnya kurang dari 7 tahun masih dianggap tidak penting. Dan bisa mati kapan saja. Anggapan ini berlaku di hampir semua peradaban. Terkait dengan kematian anak anak ini, tiap tempat punya ritual yang berbeda beda. Sebagian dari ritual tersebut unik, ada yang keren namun ada juga yang terdengar kejam. Tanpa banyak buang waktu lagi, inilah beberapa adat kebiasaan menangani kematian seorang balita di berbagai peradaban.

1. Tradisi Menangani Kematian Bayi Di Cina Kuno.

Banyak anak banyak rezeki, filosofi tersebut mungkin yang diyakini oleh orang orang Cina kuno. Cina merupakan negara dengan penduduk terbanyak di dunia. kebiasaan punya anak banyak kemungkinan sudah ada sejak zaman Cina kuno. Meskipun Cina punya banyak penduduk, namun angka kematian bayi di Cina pada zaman dahulu sangat tinggi lho. Saking tingginya, kematian bayi itu adalah sesuatu yang wajar.

Tradisi Menangani Kematian Bayi Di Cina Kuno.
Tradisi Menangani Kematian Bayi Di Cina Kuno. image [source]

Bahkan di masyarakat Cina zaman kuno tersebut orang tua tidak boleh bersedih terlalu lama ketika bayi atau balita mereka meninggal. Mereka hanya boleh berduka masing masing satu hari untuk tiap bulan umur bayi. Jadi kalau ada anak bayi yang meninggal pada usia 3 bulan, maka keluarga tersebut hanya boleh bersedih selama 3 hari. Anak bagi penduduk Cina pada zaman dahulu belum lah dianggap manusia. Sehingga kematian mereka tidak pantas membuat orang tuanya bersedih. Kejam sekali ya sepertinya kebiasaan ini.

2. Tradisi Menghadapi Kematian Bayi Di Amerika Selatan Pada 1800-An

Di Amerika Selatan, pra orang tua tidak ingin kehilangan memori tentang anak yang pernah mereka miliki. Sehingga jika ada anak balita atau bayi yang meninggal, mereka akan menyewa seorang pelukis. Si pelukis tersebut kemudian akan membuat sketsa wajah anak meninggal yang telah di dandani. Bersama dengan orang tua si anak, sang pelukis membuat detail wajah si anak. Di dalam lukisan tersebut si anak kadang di gambarkan bermain bersama mainan favorit mereka.

Tradisi Menghadapi Kematian Bayi Di Amerika Selatan Pada 1800-An
Tradisi Menghadapi Kematian Bayi Di Amerika Selatan Pada 1800-An image [source]

Tentu saja aktivitas membuat lukisa anak balita yang sudah meninggal ini hanya mampu dilakukan oleh orang orang kaya. Karena banyaknya orang tua yang membuat lukisan pada tahun 2016, pernah digelar pameran lukisan dengan tema anak meninggal ini. salah satu ciri khusus pada lukisan anak meninggal ini adalah adanya gambar pohon mati di background belakang.

3. Tradisi Menangani Kematian Di Masyarakat Inggris Kuno.

Kebiasaan yang sama dalam menangani anak yang meninggal juga di dapati di masyarakat Inggris pada zaman dahulu. Namun teknologi mereka sedikit lebih maju. Alih alih menyewa pelukis, orang tua yang ditinggal mati anaknya akan menyewa seorang pemotret.

Tradisi Menangani Kematian Di Masyarakat Inggris Kuno.
Tradisi Menangani Kematian Di Masyarakat Inggris Kuno. image [source]

Anak yang sudah meninggal tersebut kemudian didandani. Kalau anak perempuan didandani secantik mungkin, kalau anak laki laki didandani seganteng mungkin. Anak mati yang telah didandani tersebut kemudian dibuat seolah olah sedang pose berdiri bersama saudara saudara yang lain. kemudian di buatlah foto bersama saudara saudaranya yang masih hidup tersebut. seperti tampak pada foto diatas, anak wanita paling kiri sudah terlihat meninggal dan matanya terpejam.

4. Tradisi Terkait Menghadapi Kematian Bayi Di Jepang.

Wanita wanita jepang sangat terbuka dalam membicarakan peristiwa aborsi, ataupun keguguran kandungan mereka. Meskipun begitu ikatan antara ibu dan anak tetap mereka miliki. Artinya meskipun kadang mereka terpaksa melakukan abirsi, mereka tetap menyayangi janin yang telah mati tersebut. untuk mengenang anak yang telah mati, masyarakat Jepang akan mengadakan ritual khusus yang disebut dengan Mizuko Kuyo.

Tradisi Terkait Menghadapi Kematian Bayi Di Jepang.
Tradisi Terkait Menghadapi Kematian Bayi Di Jepang. image [source]

Wanita yang mengalami keguguran atau habis melakukan aborsi akan mendatangi kuil budha. Di kuil budha yang ada di Jepang, biasanya ada patung sosok buda berukuran kecil yang disebut dengan Jizo. Wanita yang sedang bersedih karena kehilangan anak dalam kandungan tersebut kemudian akan mendadani patung Jizo dengan kain dan beberapa kalung aksesoris buatan tangan lainnya. kemudian si wanita akan melantunkan doa doa untuk arwah sikecil tersebut. diyakini, aktivitas ini bisa membuat si ibu merasa lebih tenang setelah kehilangan anaknya. Cara ini kemudian ditiru oleh orang orang eropa di tahun 1970 an. Mereka membuat patung gizo sendiri di taman halaman rumah dan mendadaninya ketika mereka mengalami keguguran atau di tinggal mati anak bayi mereka.

5. Tradisi Mengahadapi Kematian Bayi Di Masyarakat Yunani Dan Romawi Kuno.

Catatan mengenai kebiasan orang Yunani kuno dalam menghadapi kematian bayi bisa didapat dari karya karya Aristoteles. Meskipun punya catatan lengkap mengenai kematian bayi, anggapan Aristoteles tentang bayi ini dikenal cukup kejam. Menurutnya, bayi yang cacat lebih baik mati saja dari pada hidup membawa sengsara. Kalau membunuh bayi terasa cukup kejam, maka para orang tua yang punya bayi cacat, di anjurkan untuk menelantarkan bayi tersebut di ruang terbuka.

Tradisi Mengahadapi Kematian Bayi Di Masyarakat Yunani Dan Romawi Kuno.
Tradisi Mengahadapi Kematian Bayi Di Masyarakat Yunani Dan Romawi Kuno. image [source]

Si bayi cacat tersebut diharapkan akan mati sendiri terkena panas matahari dan hujan. Kebiasaan menelantarkan bayi di tempat terbuka ini memang lazim dilakukan oleh masyarakat Yunani dan Romawi kuno. Pernah dengar kan kisah Romus dan Romulus. Kedua bayi kembar tersebut di telantarkan oleh orang tuanya di hutan. Kemudian Romus dan Romulus di asuh oleh srigala di hutan. Dan kemudian si Romus dan Romulus ini membangun kota roma. Herannya si Aristoteles ini, filsuf terkenal kok menganjurkan membunuh bayi cacat ya. Sangat disayangkan.

6. Tradisi Miris Pengorbanan Anak Anak Dan Bayi Di Uganda.

Uganda merupakan salah satu negara miskin di dunia. di negara miskin, semuanya bisa dibeli dengan uang. Salah satu fakta miris yang ditemui di uganda ini, masih banyaknya proses pengorbanan anak. Jika ingin membangun gedung besar dan ingin tidak ada kesialan yang menimpa gedung tersebut, maka seorang anak harus di korbankan. Anak anak yang dikorbankan tersebut bisa diambil dari anak anak jalanan, atau anak anak lain korban penculikan.

Tradisi Miris Pengerbanan Anak Anak Dan Bayi Di Uganda.
Tradisi Miris Pengerbanan Anak Anak Dan Bayi Di Uganda. image [source]

Praktek ini terungkap ketika pada tahun 2011 seorang reporter bbc menyamar dan meminta saran kepada dukun di Uganda sana. Si reporter ini pura pura mau membangun gedung. Untuk menghindari kesialan dukun tersebut menawarkan pengorbanan anak dengan biaya tertentu. Fakta adanya kebiasaan mengorbankan anak ini tentu saja sangat mengejutkan banyak orang ya. Rupanya kebiasaan ini sudah diketahui polisi. Namun karena uang sogokan sepertinya polisi tidak banyak bertindak. Bahkan para orang tua yang kehilangan anak akibat di culik dan di korbankan juga tidak berbuat banyak. ketika mereka melapor ke polisi atau protes, biasanya pelaku pembunuhan akan memberi uang tutup mulut kepada orang tua tersebut. miskin lalu diberi uang dalam jumlah lumayan. Orang tua yang kehilangan anak tersebut pun akan diam dan berhenti menuntut keadilan. Nyawa anak anak sangat tidak di hargai di uganda ini. mereka seringkali dilihat sebatas sebagai tumbal.
Itulah beberapa tradisi menghadapi bayi dan balita yang mati di berbagai negara serta berbagai zaman yang berbeda. Beruntung sekali bukan, kita dan anak anak kita lahir di zaman ini. selain perawatan kesehatan yang bisa didapat sudah lebih baik, di zaman ini ikatan antara anak dan orang tua juga kuat. Orang tua akan melakukan apa saja agar anaknya bisa bertahan hidup. Yang punya cacat sejak lahir akan diterapi, dan yang sakit akan diobati. Kalaupun ada anak yang ditelantarkan orang tua, maka banyak orang akan berebut untuk merawatnya. Tidak membiarkannya mati seperti yang terjadi di masyarakat yunani dan romawi kuno.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *