Sedang memuat 4 Wanita Hebat Nusantara Yang Memimpin Perang Besar

4 Wanita Hebat Nusantara Yang Memimpin Perang Besar

Wanita pernah dianggap sebagai kaum yang lemah dan tidak cocock berada di medan perang tempatnya pertarungan dan pertumpahan darah. Namun tak semua wanita seperti itu. Ada yang telah mebuktikan kehebatan mereka dengan menjadi panglima perang.

Dengan sikap yang gagah berani mereka memimpin tentara melawan musuh. Beberapa di antara mereka telah mendapat predikat sebagai pahlawan Indonesia. Siapa saja para wanita hebat tersebut? Berikut ini ulasan selengkapnya.

1. Laksmana Malahayati

Laksmana Malahayati semasa hidup bukan hanya wanita yang agung dalam hal budi pekertinya, tapi juga terkenal tangkas sebagai seorang panglima perang asal Aceh. Malahayati atau Keumalahayati adalah seorang keturunan bangsawan Kesultanan Aceh. Ia adalah anak dari Laksamana Mahmud Syah sedangkan kakek dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah putra dari Sultan Salahuddin Syah.

Malahayati
Laksmana Malahayati [ Image Source ]

Malahayati dengan kemampuannya memimpin tentara dipercaya untuk memegang jabatan sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV tahun 1585 hingga 1604. Malahayati tercata juga pernah memimpin para wanita untuk melawan tentara VOC

2. Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien juga merupakan seorang pejuang era Aceh masih dalam bentuk kerajaan. Ia lahir di Aceh tahun 1848 dan setelah melakukan perlawanan terhadap penjajah ia meninggal di Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908. Cut Nyak Dien sendiri adalah istri dari Teuku Umar yang juga berperan sebagai pejuang.

Cut Nyak Dien
Cut Nyak Dien [ Image Source ]

Sama seperti suami sebelumnya, Teuku Umar juga akhirnya tewas ditangan penjajah. Meski begitu Cut Nyak Dien tak gentar ia tetap memimpin sisa-sisa pasukan untuk melawan Belanda. Setelah ditangkap Cut Nya Dien dibuang ke Sumedang hingga ia menemui ajalnya tahun 1908.

3. Martha Cristina Tiahahu

Dengan rambut panjang terurai dan ikat kepala warna merah, Martha Christina Tiahahu menularkan semangat perjuaangan melawan penjajah. Tak peduli dengan bahaya, ia terjun langsung ke medan perang memimpin pasukan dalam Perang Pattimura. Ia terus mendampingi ayahnya yaitu Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu.

Monumen Martha Christina Tiahahu
Martha Cristina Tiahahu [ Image Source ]

Ayahnya kemudian tertangkap dan dijathui hukuman mati. artha sudah berusaha untuk membebaskan ayahnya namun tidak berhasil. Meski begitu, ia tetap melanjutkan perjuangan bersama sisa-sisa pasukan termasuk para wanita. Ia akhirnya juga tertangkap dan diasingkan ke Pulau Jawa.

4. Cut Nyak Meutia

Geram dengan Belanda yang menjajah tahanya, Cut Nyak Meutia dan suaminya yaitu Teuku Muhammad menyusun siasat untuk melawan penjajah. Ia kemudian mengumpulkan pengikut di Aceh. Tak lama setelah itu Meutia ditinggal oleh suaminya yang tewas terbunuh. Pejuang yang lahir tahun 1870 itu kemudian menikah lagi dan melanjutkan perjuangannya bersama dengan Pang Nagroe.

Cut Nyak Meutia
Cut Nyak Meutia [ Image Souece ]

Setelah suami keduanya itu meninggal dunia Cut Nyak Meutia tak berputus asa. Ia tetap melancarkan serangan pada penjajah dan berhasil merebut beberapa pos pertahan musuh. Dalam pertempuran di Alue Kurieng Cut Nyak Meutia gugur setelah berhadapan dengan Marechausee.

Itulah beberapa wanita hebat dari Nusantara yang mampu memimpin sebuah armada perang. Mereka telah membuktikan jika wanita tak bisa diapandang sebelah mata. Kita patut bangga bukan? Memiliki para pahlawan seperti mereka?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *