Siapa yang tak mengenal pejuang bernama Soedirman. Ia adalah Panglima perang yang sangat berjasa bagi Indonesia dalam perjuangannya. Beliau adalah pejuang yang dianugerahi pangkat bintang lima yang terkenal dengan sebutan Panglima Jendral Soedirman. Ia merupakan pejuang yang sangat dihormati oleh Presiden Soekarno karena baktinya untuk Negaranya. Karena kegigihannya dalam berjuang, Soedirman juga dijadikan tangan kanannya dalam menyelamatkan negeri ini dari penjajahan Belanda dan para tentara sekutu.

jenderal soedirman

jenderal soedirman [ image source ]

Inilah sosok Panglima yang berani berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan untuk kemerdekaan Bumi Pertiwi Indonesia. Mungkin tanpa peran serta perjuangan beliau, Indonesia yang merdeka ditahun 1945 akan kembali kedalam jajahan Belanda yang masih ngotot ingin menguasai Bumi Pertiwi Indonesia. Berikut inilah sedikit cerita tentang kisah hidupnya dalam berjuang untuk Negara Republik Indonesia.

1. Soedirman Pemuda cerdas Dengan Jiwa Nasionalisme Tinggi

Soedirman terlahir dari pasangan bernama Karsid Kartawiuraji sang ayah dan ibunya bernama Siyem pada 24 Januari 1916 di Bodas Karangjati, Rembang. Sejak dilahirkan Jendral Soedirman tidaklah hidup bersama kedua orangtuanya, melainkan Ia diasuh oleh saudara dari ibunya yang saat itu menjabat camat yang bernama Raden Cokrosunaryo. Gelar raden yang didapat oleh Jendral Soedirman adalah merupakan pemberian dari Cokro sunaryo yang telah menganggapnya sebagai anaknya sendiri. Saat dari kecil Jendral Soedirman sudah terlihat sebagai anak yang pandai dan cerdas, ia juga merupakan siswa yang rajin dan sangat aktif dalam kegiatan ekstrakulikuler juga rajin mengikuti kegiatan kepanduan di organisasi Islam Muhammadiyah.

Jenderal Soedirman adalah pemuda cerdas

Jenderal Soedirman adalah pemuda cerdas [ image source ]

Sejak di sekolah menengah Soedirman telah memiliki kemampuan dalam memimpin dan berorganisasi, selain itu ketaatannya dalam beragama membuat Soedirman sangat dihormati oleh masyarakat dan dijuluki Haji oleh teman-temannya. Selama mengenyam pendidikan bersekolah Soedirman banyak diajarkan tentang sebuah makna dan arti Nasionalisme, dari ilmu yang didapatnya selama sekolah, Soedirman menjadi pemuda yang rela berkorban berjuang untuk Negaranya sampai titik darah terakhir. Semangat Nasionalismenya yang tinggi inilah telah membuat Soedirman menjadi sosok yang sangat terkenal dan menjadi penyemangat rakyat Indonesia untuk bangkit bersama melawan penjajahan demi kejayaan Bangsanya.

2. Soedirman Adalah Seorang Guru Yang Adil Dan Sabar

Pada tahun kedelapan dalam pendidikannya Soedirman melanjutkan ke sekolah Wirotomo yang banyak mempelajari hal-hal baru dari ilmu sains, matematika, hingga ilmu bahasa. Kelulusannya dari sekolah Wirotomo, Soedirman melanjutkan pendidikannya di Kweekschool ( sekolah keguruan ) yang dikelola oleh Muhammadiyah di Surakarta. Namun tak lama berselang satu tahun Soedirman berhenti dalam mengeyam pendidikan di kweekschool karena kekurangan biaya. Kemudian ia kembali ke Cilacap dan mengabdikan diri menjadi Guru di sekolah dasar Muhammadiyah. Dalam mendidik muridnya, Soedirman memberikan metode pelajaran dengan membawa pesan-pesan moral dari contoh kehidupan para Rasul dan kisah-kisah wayang tradisonal juga tak lupa memupukkan rasa nasionalisme kepada murid-muridnya.

Soedirman adalah seorang guru yang sabar dan adil

Soedirman adalah seorang guru yang sabar dan adil [ image source ]

Kesabaran dalam mendidik Soedirman kemudian diangkat menjadi Kepala sekolah. Soedirman juga terkenal sebagai seorang yang adil dalam pemecahan masalah jika terjadi seteru diantara guru-guru di sekolah yang ia pimpin. Kepiawannya menjadi Guru yang adil dan sabar membuatnya semakin dikenal dan diakui oleh masyarakat. Sewaktu menjadi Guru Soedirman menikahi seorang gadis bernama Alfiah yang merupakan mantan teman waktu masa sekolahnya dulu, dan kemudian dikaruniai tiga orang putra bernama Ahmad Tridarwono, Muhammad Teguh Bambang Tjahjadi, Taufik Effendi, serta empat orang putri benama Didi Praptiastuti, Didi Sutjiadi, Didi Pudjiati, dan Titi Wahjuti Satya Ningrum.

3. Soedirman Bergabung Menjadi Pasukan PETA

Pada awal 1942 Jepang mulai menduduki Hindia setelah memenangkan pertempuran melawan pasukan belanda dan pasukan KNIL ( Koninklijk Nederlands-Indische Leger ) dengan menyerahnya Gubernur Jendral Tjarda van starkenborg Stachouwer dan Jendral KNIL Hein ter Poorten. Peristiwa ini membuat perubahan yang sangat drastis dalam pemerintahan Nusantara terutama untuk warga non-Jepang. Masyarakat pribumi banyak yang terkena imbasnya mulai dari menderita hidupnya dan mengalami pelanggaran hak asasi manusia di tangan Jepang. Pada tahun 1944, Soedirman diminta bergabung dalam tentara Pembela Tanah Air ( PETA ) bentukan Jepang, untuk menghalau invasi Sekutu dan berfokus untuk merekrut para pemuda dibidang militer.

Soedirman Bergabung Menjadi Pasukan PETA

Soedirman Bergabung Menjadi Pasukan PETA [ image source ]

Soedirman dijadikan komandan ( daidanco ) PETA dan ditempatkan di batalion Kroya, Banyumas, Jawa Tengah. Pada waktu tentara PETA dibawah komando kusaeri, terjadi pergolakan didalamnya yaitu berupa pemberontakan terhadap tentara Jepang. Dari peristiwa tersebut Soedirman diperintahkan untuk menghentikan pemberontaknya tersebut, namun Soedirman mengajukan beberapa syarat yaitu para pemberontak dibiarkan tetap hidup. Jepang menyetujui hal itu, namun akhirnya tetap saja para pemberontak dikirim ke kamp konsentrasi dan dijadikan pekerja kasar.

4. Soedirman Memimpin Perang

Setelah jatuhnya bom di Hiroshima dan Nagasaki pada awal Agustus 1945, yang kemudian dilakukannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 agustus, Jepang mulai melemah. Kesempatan tersebut digunakan Soedirman untuk melarikan diri ke Jakarta dan bertemu dengan Presiden Soekarno, kemudian menawarkan diri untuk memimpin pasukan di wilayah Kroya. Keuletanya dalam mempin pasukan membuat kariernya melejit drastis bahkan sampai disejajarkan dengan para petinggi militer senior. Pada 12 November 1945 adalah dimana Soedirman terpilih menjadi pemimpin TKR ( Tentara Keamanan Rakyat ) karena mengungguli dari suara pemilih Oerip, Soedirman kemudian dipromosikan menjadi Jendral.

Soedirman Memimpin Perang

Soedirman Memimpin Perang [ image source ]

Soedirman kembali ke Banyumas sembari menunggu pengangkatannya sebagai pemimpin TKR. Pada akhir November Soedirman memerintahkan pasukan Divisi V yang di Komandoi oleh Isdiman untuk menyerang Sekutu di Ambarawa. Namun Pasukan Divisi V terpaksa mundur dengan tewasnya Isdiman dalam peperangan tersebut. Soedirman kemudian memimpin Divisi dalam serangan lain terhadap tentara Sekutu dengan berbekal persenjataan mulai dari bambu runcing dan lainnya. Soedirman memiliki strategi yang sangat hebat yaitu strategi perang gerilya, strategi sangat ini terbukti ampuh membuat kocar kacir pasukan sekutu yang akhirnya kalah bertempur saat di ambarawa. Atas kemenangan dalam pertempuran tersebut Soedirman dikukuhkan menjadi Panglima Besar TKR tanggal 18 Desember 1945. Soedirman kembali dikukuhkan sebagai Panglima Besar setelah reorganisasi dan perluasan militer pada tanggal 25 mei 1946, dalam upacara pengangkatannya Soedirman bersumpah akan melindungi Republik sampai titik darah penghabisan.

5. Ketangguhan Panglima Besar Jendral Soedirman

Upaya Belanda merebut Ibukota Yogyakarta dengan melakukan Agresi Militer yang kedua berhasil mengambil alih lapangan udara di Maguwo. Tanpa pikir panjang Soedirman memerintahkan stasiun RRI untuk menyiarkan pernyataan kepada para pasukan bahwa para tentara harus melawan karena mereka telah dilatih sebagai prajurit Gerilya. Sebelum ikut memulai Gerilya, Soedirman singgah kerumah dinas untuk membakar dokumen penting agar tak jatuh ketangan Belanda, kemudian melanjutkan perjalanannya bersama kelompok kecil pasukan dan Dokter Pribadinya menuju ke Kretek, Parangtritis, Bantul. Mengetahui dirinya sedang diburu Belanda, Soedirman melanjutkan perjalanan ke Ponorogo dan berhenti di rumah ulama bernama Mahfudz yang kemudian memberinya sebuah tongkat untuk membantunya berjalan, meskipun akhirnya Soedirman melanjutkan perjalanannya dengan kondisi di bopong menggunakan tandu karena sakit TBC yang cukup parah dideritanya.

Ketangguhan Panglima Besar Jendral Soedirman

Ketangguhan Panglima Besar Jendral Soedirman [ image source ]

Semangat juang sang Panglima Besar Jendral Soedirman tak surut sedikitpun untuk Republik Indonesia. Meskipun kesulitan dengan fisik yang dideritanya dengan ditandu Soedirman tetap memimpin perjuangan tanpa gentar dan kembali menyusun strategi bersama prajurit dan pejabat Negara untuk mengupayakan pertempuran besar-besaran terhadap Belanda, dan menghasilkan rencana besar yaitu Serangan Umum 1 Maret 1949. Dibawah Komando Letkol Soeharto, rencana Serangan Umum 1 Maret berhasil merebut kembali wilayah Yogyakarta dalam waktu enam belas jam, sekaligus menjadikan unjuk kekuatan yang mengakibatkan Belanda kehilangan muka dimata Internasional. Dari keberhasilan Serangan Umum 1 Maret, Kemudian munculah perjanjian Roem-Royen yang menyatakan bahwa belanda akan menarik pasukannya dari Yogyakarta dan poin-poin lainnya.Pada tanggal 27 Desember 1949 Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda secara Resmi. Selang waktu sebulan setelah Diakuinya Kedaulatan Indonesia pada tanggal 29 januari 1950 pada pukul 18.30, Indonesia diselimuti kabar duka atas Wafatnya pejuang yang sangat tangguh dan gigih sang Panglima Besar Jendral Soedirman. Panglima Besar Jendral Soedirman Wafat di Magelang dan kebumikan di Taman Makam Pahlawan Semaki.

Inilah sekelumit tentang cerita sejarah akan perjuangan Panglima Besar Soedirman yang berani berjuang membela Tanah Airnya sesuai janji akan sumpah yang pernah diucapkannya “ akan melindungi Republik sampai titik darah penghabisan”. Semoga perjuangan Beliau menjadikan semangat untuk generasi penerus Indonesia semakin menumbuhkan rasa Nasionalisme terhadap Bangsa Indonesia dan menjadikan Bangsa Indonesia selalu Berjaya sebagai wujud rasa Hormat atas jasa-jasa para Pahlawan.

No more articles