Dibandingkan jaman penjajahan dahulu, kondisi indonesia saat ini tentu jauh lebih sejahtera. Kalau dulu makan saja susah, kini rata rata sudah bisa makan sehari berkali kali dan pilih pilih makanan yang enak. Tak hanya itu sebagian besar rakyat indonesia juga sudah pegang gadget. Tak hanya satu malah. Tapi ternyata tidak semua rakyat indonesia sejahtera lho. di pelosok pelosok ada juga orang indonesia yang masih sengsara kehidupannya.

Anak Anaknya Tidak Sekolah Dan Tinggal Di Kandang Kerbau, Dasirin Sekeluarga Akhirnya Di Buatkan Rumah

Anak Anaknya Tidak Sekolah Dan Tinggal Di Kandang Kerbau, Dasirin Sekeluarga Akhirnya Di Buatkan Rumah Image [source]

Salah satunya adalah keluarga dasirin. Anak anak dasirin semuanya tidak sekolah dan lebih menyedihkan lagi mereka terpaksa tinggal di kandang kerbau di tengah hutan. Seperti apa sih potret kehidupan dasirin sekeluarga ini? berikut informasinya.

1. Mengasingkan Diri Dari Perkampungan Warga Dan Tinggal Di Perbukitan Terjal.

Mengasingkan Diri Dari Perkampungan Warga Dan Tinggal Di Perbukitan Terjal.

Mengasingkan Diri Dari Perkampungan Warga Dan Tinggal Di Perbukitan Terjal. Image [source]

Tak punya uang untuk membeli tanah di dekat pemukiman warha, dasirin sekeluarga terpaksa tinggal di perbukitan terjal di bukit menger, dukuh menger, desa sengare kecamatan talun, kabupaten pekalongan. Akses ke rumah dasirin ini cukup susah. Mereka harus melewati jalan terjal menanjak dan menembus hutan sejauh 5 km dari pemukiman warga.

2. Tinggal Di Kandang Kerbau.

Tinggal Di Kandang Kerbau.

Tinggal Di Kandang Kerbau. Image [source]

Di perbukitan menger tersebut dasirin tinggal bersama kedua ananya serta istrinya. Di samping kandang kerbau yang mereka jadikan rumah ada kotoran sapi serta tumpukan jerami yang sudah pasti baunya menyengat. Ketika malam tiba mereka di terangi oleh lampu minyak. Tak hanya nyamuk, binatang buas juga sering masuk ke dalam gubugnya.

3. Kedua Anak Dasirin Tidak Sekolah Lagi

Kedua Anak Dasirin Tidak Sekolah Lagi

Kedua Anak Dasirin Tidak Sekolah Lagi Image [source]

Dasirin mempunyai 2 anak yaitu wiwir dan vivi. Wiwit berusia 16 tahun sementara si vivi masih 10 tahun. Wiwit mengalami kelumpuhan sejak ia kelas satu SD sejak saat itu ia tidak sekolah. Egitu juga dengan vivi. Meskipun kondisi badannya sehat, ia juga tidak sekolah karena tidak ada biaya.

4. Kerja Naik Turun Gunung Jadi Buruh Tani.

Kerja Naik Turun Gunung Jadi Buruh Tani.

Kerja Naik Turun Gunung Jadi Buruh Tani. Image [source]

Untuk memenuhi kebutuhan keluargaya, dasirin beserta istri bekerja sebagai buruh tani. Ia naik turun bukit bekerja di ladang ladang orang dan menjaga sapi para warga kampung. Tentu saja hasil yang di dapatkan kurang untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

5. Sering Makan Umbi Dan Buah Buahan Untuk Bertahan Hidup.

Sering Makan Umbi Dan Buah Buahan Untuk Bertahan Hidup.

Sering Makan Umbi Dan Buah Buahan Untuk Bertahan Hidup. Image [source]

Bekerja dengan pendapatan yang tidak banyak, dasirin sekeluarga sering terpaksa mengumpulkan umbi umbi serta buah buahan yang ada di sekitar hutan untuk makan sehari hari. pernah juga ia sekeluarga mengalami keracunan karena memakan umbi beracun. Kalau musim buah mereka bisa beruntung bisa makan aneka macam buah yang tersedia di hutan.

6. Warga Memberi Hadiah Rumah.

Warga Memberi Hadiah Rumah.

Warga Memberi Hadiah Rumah. Image [source]

Setelah kondisi dasirin yang tinggal di puncak bukit menger di ketahui warga, ia pun di hadiahi sebuah rumah. Rumah tersebut rencananya akan di bangun di atas khas desa. untuk biaya pembangunannya, pemerintah desa bersama masyarakat akan membiayai secara swadaya. Tak hanya itu, wiwit dan vivi bakalan di evakuasi serta di puihkan kondisinya. Wiwit saat ini juga mengalami kesulitan berkomunikasi.

Untung saja ya kondisi memprihatinkan dari dasirin ini segera di ketahui warga. Untung juga warga sekitar dasirin masih ada yang baik. di bagian lain di indonesia mungkin masih ada masyarakat seperti dasirin ini. oleh karena itu jangan ragu untu kmenginfokan orang orang seperti ini ke pihak yang berwenang ya. Atau minimal ke media sosial agar banyak yang hatinya tersentuh untuk membantu.

No more articles